Filosofi-Makanan-Khas-Jawa-Ingkung-Ayam-Kampung

Dipublikasikan : 20-11-2017 / 11:34:18

Jawa merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia, hal ini menyebabkan suku ini memiliki budaya, kebiasaan, adat istiadat, makanan, ritual keagamaan yang sangat terkenal. Kali ini saya akan membahas mengenai salah satu makanan yang terkenal dan masih banyak dilestarikan oleh masyarakat suku jawa yakni Ingkung Ayam Kampung.

Ingkung Ayam Kampung merupakan salah satu makanan khas Jawa yang berbahan dasar utama ayam yang dibumbui dan disajikan satu ekor utuh (tidak dipotong-potong perbagian layaknya sajian ayam yang umum ada di Indonesia). Ingkung dibuat dari ayam jago atau ayam jantan dengan umur tertentu.


Menurut Sheiliya dalam Jurnal Pergeseran Nilai-nilai Religius Kenduri dalam Tradisi Jawa oleh Masyarakat Perkotaan, Ayam utuh atau ingkung ini memiliki filosofi yang cukup dalam yakni manusia diharapkan dapat berperilaku seperti ayam. Kenapa? Karena seekor ayam jika diberi makan tidaklah langsung dimakan, namun dipilih dahulu mana yang baik dan mana yang tidak, dengan demikian manusia diharapakan mampu memilah mana hal
baik yang harus dilakukan dan mana hal buruk yang harus di tinggalkan.

Di daerah Ciamis yakni daerah Jawa Barat yang bebatasan langsung dengan Jawa Tengah memiliki budaya yang cukup unik terhadap ingkung pasalnya daerah yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Sunda itu menyajikan ingkung hanya pada hajatan atau pesta pernikahan ataupun pesta khitanan (sunatan). Ingkung hanya boleh dimakan setelah yang memiliki hajat sudah memakanannya terlebih dahulu. Jika aturan tersebut dilanggar, menurut para sesepuh pernikahan yang berlangsung tidak akan langgeng (bagi yang menikah) dan bekas sunatan akan lama sembuh (bagi yang dikhitan).

Sedangkan di daerah Kulon Progo, ingkung disajikan pada acara kematian, hal ini sejalan dengan filosofi yang mereka yakini adalah perwujudan sikap ahli waris (keluarga yang ditinggalkan) bersungguh-sungguh dalam memohon doa agar anggota keluarganya yang telah meninggal diampuni segala dosa-dosanya dan mendapatkan tempat yang semestinya di sisi Tuhan. Di daerah ini ingkung disajikan dengan posisi wanita duduk timpuh atau seperti posisi orang sedang duduk pada saat shalat. Posisi tersebut dipersepsikan sebagai sikap orang yang sedang manekung (bersemadi). Filosofi ini diyakini diambil dari asal kata ingkung yakni ing (ingsun) dan kung (manekung). Kata ingsun berarti aku dan kata manekung berarti berdoa dengan penuh khidmat.